Minggu, 21 Februari 2010

Towani Tolotang Tesis

AGAMA SEBAGAI KONSEP SOSIAL

TOWANI TOLOTANG DI KABUPATEN SIDRAP

RELION AS SOCIAL CONCEPT OF

TOWANI TOLOTANG IN SIDRAP DISTRICT

AHMAD FAISAL HAJJI

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2004

PRAKATA

Syukur alhamdulillah, Penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas limpahan rahmat dan tafik-Nya kepada Penulis sehingga tesis ini dapat diselesaikan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Tesis ini berjudul Agama Sebagai Konsep Sosial Towani Tolotang di Kabupaten Sidrap.

Dalam penulisan tesis ini, Penulis banyak mendapat bantuan dari berbagai pihak terutama Bapak Prof. Dr. H.M. Idrus Abustam dan Prof. Dr. H. Ahmad M. Sewang, M.A. Masing-masing sebagai ketua dan anggota komisi pembimbing yang dengan penuh kesabaran dan ketulusan telah meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan, saran, dorongan moril, sejak penyusunan proposal hingga penyelesaian tesis ini. Oleh kerenanya pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati, Penulis menyampaikan terima kasih.

Terima kasih juga disamapaikan kepada Bapak Rektor Universitad Negeri Makassar, Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar, Bapak/Ibu dosen serta karyawan Program Pascasarjana Universitas Negeri Makassar.

Terima kasih juga disampaikan kepada Keluarga Ir. Hj. Rita Sahara Arifin Genda, Pemerintah TK II Kabupaten Sidrap, Tokoh Agama, Tokoh Adat dan segenap lapisan masyarakat Towani Tolotang dan Tolotang Benteng, semua rekan, sahabat yang telah memberikan bantuan dalam penulisan Tesis ini.

Akhirnya, ucapan terima kasih pribadi Penulis samapaikan kepada kedua orang tua, ibu dan bapak mertua, istri dan anak saya tercinta Rabiatun Adawiayah Bunga Eja atas doa restu dan dorongannya sehingga tesis ini dapat diselesaiakan.

Harapan, Penulis semoga segala bantuan, petunjuk, dorongan dsan pengorbana dari berbagai pihak yang memungkinkan selesainya tesis ini, bernilai ibadah dan memperoleh imbalan yang berlipat ganda di sisi Allah SWT.

Makassar Penulis

24 April 2004 AHAMAD FAISAL HAJJI

ABSTRAK

AHMAD FAISAL HAJJI. Agama Sebagai Konsep Sosial Towani Tolotang di Kabupaten Sidrap. ( Dibimbing oleh Idrus Abustam dan Ahmad M. Sewang ).

Agama sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat adikodrati menyertai manusia dalam ruang lingkup kehiduapan, agama memiliki nilai dan norma yang mengatur kehidupan manusia dalam hubungannya dengan masyarakat. Agama bagi masyarakat Towani Tolotang dijadiakan sebagai dasar etika sosisal di mana praksis social digerakkan. Nuansa keberagamaan masyarakat Towani Tolotang yang titik sentral kepemimpinannya dikendalikan oleh Uwa’dan Uwatta dengan pola pewarisan estapet dari generasi ke generasi berikutnya samapai sekarang masih tetap di petahankan sebagai sesuatu yang skaral.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriktif, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gamabaran pelaksanaan nilai-nilai keberagamaan dalam kehidupan social Towani Tolotang interaksi social Towani Tolotang sebagai aplikasi dari nilai-nilai ajaran agama. Mamfaat yang diharapkan adalah sebagai bahan untuk menata sebuah tatanan masyarakat global yang memiliki konsep social yang dapat meminimalkan terjadinya konflik antar pemeluk agama dalam setiap lapisan masyarakat.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep social yang dijadikan dasar dalam menjalankan kehidupan social Towani Tolotang merupakan perwujudan dari konsep agama yang selama ini mereka pahami, sehingga setiap kegiatan social Towani Tolotang tidak bias lepas dari nuansa keberagamaan.

ABSTRACT

AHMAD FAISAL HAJJI. Religion as a Social Concept of “Towani Tolotang” in sidrap District (supervised by M. Idrus Abustam and Ahmad M. Sewang).

Religion as form of human belief in a supernatural thing compaying human beings in their scope of life, religion has values and norms that regulate the life of human beings in their relatin on community. Religion for “Towani Tolotang” community is made as the basis of social ethics where social practices are activated. The religion nuance of “Towani Tolotang” community, whose center of leadhership is controller “Uwa” and “Uwatta” whit the pattern of relay inheritance from the one generation to the generation, is still maintained up to now as a sacred matter.

This research made use of qualitative-descriptive approach and aimed at describing the implementation of religious values in the social interaction of “Towani Tolotang” and the social interactions of “Towani Tolotang” as the application of the religious teachings. Another significance expected from this research is as materials to make a global community order with a social concept that can minimalize conflicts among the followers or adherents of the religion in every layer of the community.

The results of research indicate that the social concept is made as the basis values in the social life of “Towani Tolotang” as the application of the religious concept their understanding, whit the resoult that every social activity “Towani Tolotang” cant to be lost religious nuance.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perilaku beragama dianggap sebagai gejala-gejala yang merupakan factor tidak tetap, penjelasan perilaku keagamaan dalam masyarakat atau di atas posisi manusia dalam struktur institusi keagamaan itu dapat ditemukan dari kritik terhadap agama pada abad ke 19 oleh Karl Marx (1818-1883), manusia adalah mahluk yang memerlukn suatu tatanan masyrakat, kemudian masyarakat itu memerlukan agama, yang merupakan suatu kesadaran yang tidak masua akal.

Agama adalah teori umum tentang dunia, agama adalah realisasi fantastis dari manusia, sebab agama tidak memiliki realitas yang benar. Agama adalah keluh kesah mahluk tertindas, jiwa dari suatu dunia yang tidak berkalbu, agama diperlukan manusia untuk mengisi perasaan dan jiwa yang hampa serta untuk pelarian sehingga agama merupakan roh dari kebudayaan sehingga menjadi candu bagi masyarakat (Ramli, 2000).

Penelitian tentang sosiologi agama telah berkembang sejak lama, tujuan penelitian ini adalah untuk memperkaya pengalaman dalam mempelajari agama secara ilmiah. Pada tahun 1950 di Amerika Serikat telah dibentuk suatu badan yang bernama The Society the Sciintific Study of Religion pada lembaga inilah para sosiolog dan sarjana agama terhimpun untuk melakukan penelitian (Abdullah, 1997).

Kebangkitan kembali kehidupan keberagamaan merupakan aplikasi dari keterkaitan antara nilai-nilai agama dengan berbagai persoalan social masyarakat yang tidak mampu dijawab oleh perkembangan ilmu pengetahuan, namun yang perlu diketahui adalah bahwa yang menjadi sasaran sosiologi agama adalah masyarakat beragama, bukan agama sebagai suatu system dogma, tetapi agama sebagai penomena social, yang dapat dialami banyak orang.

Agama sebagai bentuk keyakinan manusia terhadap sesuatu yang bersifat adikodrati ternyata seakan menyertai manusia dalam ruang lingkup kehidupan yang luas, agama memiliki nilai-nilai bagi kehidupan manusia sebagai orang per orang maupun hubungannya dengan masyarakat. Selain itu agma juga memberikan dampak bagi kehidupan sehari-hari, secara psikologis agama menimbulkan suatu kekuatan keyakinan bagi penganutnya yang tidak dapat tertandingi dengan kenyakinan nn agama.

Jose Cassanova dalam (Effendi, 2001) mengatakan bahwa agama melalui symbol-symbol atau nila-nilai yang dikandungnya ikut mempengaruhi, bahkan membentuk tatanan social. Dengan cirri itu dapat dipahami bahwa di mana pun suatu agama berada, diharapkan mampu memberi panduan nilai bagi seluruh proses interaksi social.

Agama dalam kehidupan manusia sebagai individu berfungsi sebagai suatu system nilai yang mengandung norma-norma tertentu. Norma tersebut menjadi acuan dalam bertindak dan bertingkah laku agar sejalan dengan keyakinan agama yang dianut. Norma sebagai proses dari system kemasyarakatan, memberikan batasan perilaku dalam kehidupan social. Individu dilahirkan dalam suatu masyarakat dan disosialisasikan dalam kehidupan untuk menerima aturan-aturan dari masyarakat yang sudah ada sebelumnya, individu meneriama hal itu sebagai standar tingkah laku yang benar dan yang salah.

Norma adalah produk dari interaksi social, produk masyarakat, dalam kehidupan beragama terdapat aturan-aturan tertentu atau norma-norma tertentu yang mengwtur kehiduapan masyarakat sehingga norma sebagai suatu system nilai memiliki arti khusus bagi individu serta memberikan pengaruh dalam melakukan interaksi social dengan manusia yang lainnya, karena perbuatan yang dilakukan dengan latar belakang keyakinan agama dinilai mempunyai unsure kesucian dan ketaatan, yang pada akhirnya mewujudkan suatu perasaan damai, kemantapan batin, kebahagian dan rasa puas.

Norma-norma tertentu yang terkandung dalam setiap nilai memberikan makna pada pola perilaku individu, sehingga tidak jarang orang mengorbankan dirinya hanya untuk sebuah nilai. Nilai mempunyai dua segi ; intelektual dan emosional, dan gabungan dari kedua aspek ini yang menentukan sesuatu nilai beserta fungsinya dalam kehidupan.

Durkhaem dalam Ishomuddin (2002), mengatakan agama muncul karena manusia hidup dalam masyarakat, serta dapat memenuhi fungsi-fungsi social penting yang tidak dapat dicapai dengan ilmu pengetahuan, dalam kalangan masyarakat tertentu pengaruh agama masih teramat kuat untuk dijadikan sebagai tameng atau landasan berpijak dalam kehidupan bermasyarakat.

Masyarakat Tolotang adalah sekelompok penduduk di kelurahan Amparita, kecamatan Tellu Limpoe. Asal usul orang Tolotang, berasal dari Kabuaten Wajo, yang mengungsi dari daerah asalnya, pada awal abad ke-17 (1666), karena menolak di Islamkan oleh raja Wajo Arung Matoa (Sangkuru Petta Mulajaji Sultan Abdurrahman). Sedangkan penamaan Tolotang karena kelompok masyarakat ini menetap di sebelah selatan kota Pangkajenne kota Kabupaten Sidenreng Rappang, dalam bahasa Bugis arah selatan disebut dengan istilah lotang.

Ritual dan seremoni adalah bagian yang penting dalam system kehidupan dan interaksi social masyarakat Tolotang, hampir seluruh aspek kehidupan masyarakat mengindikasikan perlunya individu untuk melakukan interaksi dan integrasi dengan masyarakat lainnya.

Penelitian terhadap masyarakat Towani Tolotang pernah dilakukan oleh Muzhar pada tahun 1997, yang penekananannya terletak pada factor-faktor yang mengakibatkan konflik dan integrasi masyarakat Towani Tolotang dengan masyarakat Islam. Penelitian tersebut berbeda dengan apa yang akan dibahas dalam penelitian ini, dimana penekanannya terletak pada aspek social yang merupakan dampak dari proses dan system beragama dari masyarakat Towani Tolotang. Setiap penelitian pasti memeliki permasalahan-permasalahan tertentu yang menjadi bahan kajiannya.

Dalam penelitian ini akan menyoroti secara sosiologis tentang interaksi social masyarakat Towani Tolotang sebagai aplikasi dari perilaku bergama. Pemusatan penelitian pada system pengintegrasian nilai-nilai agama masyarakat Towani Tolotang ke dalam pola interaksi sosialnya, factor-faktor apa yang dominan dalam pelaksanaan system keberagamaan dan factor-faktor yang menjadi penghambat terjadinya integrasi perilaku bergama kedalam system social masyarakat sebagai aplikasi dari konsep ajaran agama yang diyakini oleh Towani Tolotang.

Menurut Nasikun (2001), bahwa faktor-faktor yang biasanya menjadi penghambat terjadinya integrasi perilaku bergama ke dalam system social adalah karena dalam setiap kesatuan-kesatuan (perilaku beragama), memiliki system nilai yang berbeda-beda, dan setiap orang memiliki penafsiran yang berbeda terhadap nilai yang ada.

Komunitas Towani Tolotang ini menarik untuk diteliti karena komuitas ini menganut system social dari konsep agama yang mereka pahami. Hal lainnya adalah bahwa sebagian dari mereka yang menyatakan diri bergama Islam namun tetap nilai-nilai Tolotangdalam kehidupan, demikian juga halnya mereka yang mengklaim dirinya beragama Hindu Tolotang, komunitas inilah yang akan dijadikan sasaran penelitian dan umumnya mereka dikenal dengan sebutan Towani dan menjadikan agama sebagai dasar dari pola kehidupan social bermasyarakat, agama sebagai tolok ukur tentang apa yang baik dan apa yang buruk dalam kehidupan social.

Selama ini ada kesalah pahaman sebahagian masyarakat tentang keberadaan Towani Tolotang, mereka beranggapan bahwa komunitas Towani Tolotang adalah komunitas masyarakat tradisional yang cenderung tertutup dari arus perubahan dan kemajuan tekhnologi, namun keyataan sehari-hari mereka tidak tertutup terhadsp masyarakat yang berada di luar komunitas mereka.

Pluralisme keberagamaan di lokasi pemukiman Towani Tolotang sangan tampak, hal ini yang membuat penulis merasa tertarik untuk meneliti, bagaimana agama menjadi konsep social Towani Tolotang, seperti system perkawinan, pelaksanaan penguburan mayat, pertanian, dan lain-lainnya tetao berpatokan pada nilai-nilai agama yang mereka anut.

System social masyarakat Towani Tolotang merupakan aplikasi dari tata cara keagamaan yang membentuk suatau pranata dan iteraksi social antara masyarakat. Upacara-upacara keagamaan seperti upacara pertanian, menaiki rumah baru, menyambut kelahiran, perkawinan, Massempe’ (hari raya Towani Tolotang) dan sebagainya, jelas mempunyai arti dan tujuan, yaitu agar mereka selamat dan sejahtera dalam kehidupan. Untuk mencapai tujuan itulah diperlukan adanya kebersamaan dan pada saat berkumpul terjadi interaksi social antara anggota masyarakat yang satu dengan anggota masyarakat yang lainnya.

Dalam setiap upacara keagamaa itu, semua segi kehidupan tentunya tidak dapat terlaksana tanpa adanya kerjasama antara anggota masyarakat, pada saat pelaksanaan upacara ini dapat dilihat nilai-nilai social yang ditimbulkannya, serta dapat disaksikan secara nyata nilai-nilai agama sungguh memberi arti bagi perilaku social masyarkat Tolotang.

Agama bagi masyarakat Towani Tolotang dijadikan sebagai dasar etika dimana praksis social digerakkan, sebagai sesuatu yang mengusung nilai-nilai perilaku keberagamaan sudah selayaknya untuk terus diekploitasi makna-maknanya secara kontekstual untuk diperjuangkan dalam tata kehidupan.

Nuansa keberagamaan masyarakat Towani Tolotang samapai sekarang ini masih terus dipertahankan sebagai sesuatu yang sacral, sehingga interaksi social yang terjadi antara anggota masyarakat merupakan perwujudan dari nilai-nilai religius dan membentuk suatu tatanan social yang harmonis baik dikalangan masyarakat Tolotang sendiri maupun dengan kalangan masyarakat lainnya.

Nilai-nilai agama diharapkan mampu menjadi kekuatan bagi perubahan yang menuju pada tata kehidupan social bebas, kreatif dan dinamis, dan juga menjadi peradaban yang universal, karena gama adalah merupakan bentuk kehidupan dan jalan hidup bagi setiap mahluk yang ada di alam ini, dan tidak ada manusia modern yang tidak agamis (Eliade, 2002).

Towani Tolotang merupakan salah satu kelompok social di Kelurahan Amparita. Towani Tolotang juga merupakan sebutan bagi agama yang mereka anut, kepercayaan Towani Tolotang bersumber dari kepercayaan tentang Sawerigading, sebagai mana yang dipahami masyarakat Bugis pada umumnya.

Dalam masyarakat Towani Tolotang dikenal adanya pemimipin agama yang mereka sebut Uwa dan Uwatta yang sekaligus sebagai semacam kepala suku. Kelompok Uwa dan Uwatta menempati posisi tertinggi dalam system pelapisan social dikalangan masyarakat Towani Tolotang. Sebagai pemimpin agama para Uwa dan Uwatta dijadikan sebagai panutan dalam masyarakat, juga sebagai perantara manusia dengan Dewata Sewwae.

Kehidupan social Towani Tolotang yang nampak dalam kesehariannya merupakan cerminan dari ajaran agama yang ada. Pola perilaku terjadi tentu tidak terlepas dari konsep-konsep agama yang ada, hal ini dapat disaksikan pada setiap sesi kehidupan, dimana setiap akan memulai suatu pekerjaan diperlukan serangkaian acara serimonial keagamaan.

Towani Tolotang meyakini bahwa setiap kegiatan yang dilaksanakan haruslah dilakukan upacara atau ritual tertentu agar mendapat restu dari Dewata Sewwae, karena tanpa restu dari Nya, sulit untuk mendapatkan hasil yang maksimal.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka dapat dibuat rumusan masalah sebagai berikut :

1. Bagaimana gambaran pelaksanaan nilai-nilai keberagamaan masyarakat Towani Tolotang ?.

2. Bagaimana gambaran interaksi social Towani Tolotang berdasarkan nilai-nilai agama yang dianutnya ?.

3. Faktor-faktor apa yang menjadi pendukung dan penghambat integrasi nilai-nilai keberagamaan terhadap interaksi social Towani Tolotang ?.

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui :

1. Gambaran mengenai pelaksanaan nilai-nilai keberagamaan masyarakat Towani Tolotang.

2. Gambaran mengenai interaksi social Towani Tolotang berdasarkan niali-nilai agama yang dianutnya.

3. Faktor-faktor pendukung dan penghambat integrasi niali-nilai keberagamaan terhadap interaksi social masyarakat Towani Tolotang.

D. Manfaat Penelitan

Penulis mengharapkan beberapa manfaat dari penelitian ini, sebagai berikut :

Manfaat akademis yakni; diharapakan dapat berguna sebagai bahan informasi dan masukan, khususnya dikalangan akademis dalam usaha memperdalam sosiologi agama, dan sebagai bahan bacaan yang bermanfaat bagi mereka yang berminat terhadap masalah-masalah social serta sebagai bahan perbandingan bagi penelitian selanjutnya yang relevan dengan penelitian ini.

Manfaat praktis yakni; penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi penelitian selanjutnya, sebagai bahan referensi atau masukan kepada pemerintah dan masyarakat Kabupaten Sidenreng Rappang pada umumnya dan dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam membina hubungan social beragama di Kabupaten Sidrap.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Agama

Kehidupan merupakan misteri terdalam dari dunia. Kehidupan berasal dari suatu tempat yang bukan berasal dari dunia ini dan akhirnya pergi dari dunia ini ke dunia lain, dan tetap berada dalam sebuah tempat asing yang tidak dapat dijangkau oleh mahluk manusia.

Kehidupan manusia dimulai oleh pra kehidupan dan diteruskan pada post kehidupan, hanya sedikit yang dapat diketahui dari pra kehidupan dan post kehidupan dengan bantuan ilmu pengetahuan, namun hal itu tetap diakui adanya. Untuk menjelaskan tentang konsep-konsep ini memerlukan pendekatan agama sebagai jalan keluar yang tidak dapat dilalui dengan bantuan ilmu pengetahuan.

Misteri yang ada dalam kehidupan ini hanya dapat dijelaskan dengan pendekatan iman atau agama, untuk mengetahui dengan jelas akan dikemukakan beberapa konsep paa ahli tenteng pengertian agama. Hendri Bergson (dalam Muhni, 1994) agama adalah gambaran tentang kehidupan yang abadi sesudah kematian. Agama diturunkan kepada berakal berupa wahyu melalui nabi-nabi yang disebut oleh Bergson sebagai kaum mistik, dan kekurangan dalam kehidupan.

Persepsi nilai beragama masyarakat sekarang ini telah berubah kea rah yang lebih baik dan mendorong pada masyarakat maju, dalam masyarakat terdapat suatu bentuk kepercayaan yang berfungsi sebagai motivator untuk berbuat. Motivasi masyarakat untuk berbuat merupakan perwujudan dari rasa keberagamaan untuk meraih kesejahteraan berdasarkan keyakinan agama yang dianut, perubahan tersebut terjadi karena adanya kekecewaan terhadap ilmu pengetahuan yang dianggap gagal dalam memenuhi kehidupan spiritual manusia, sehingga agama muncul kembali sebagai sebuah jawaban.

Pengertian agama yang dikemukakan oleh Bergson pada awal pembahasan mengenai pengertian agama, dapat dipahami bahwa agama diturunkan ke dunia ini untuk menjawab berbagai persoalan yang berkaitan dengan hidup manusia sebagai mahluk berakal, walaupun manusia mempunyai naluri dan kemampuan akal namun ada hal-hal yang tidak dapat dijangkau dengan akal tersebut, kawasan inilah yang menjadi bagian dari agama untuk menjelaskannya di samping berbagai masalah kemanusiaan yang dapat dijangkau dengan akal dan naluri manusia.

Agama sebagai jalan untuk mencapai kebahagiaan, memainkan peran penting dalam memberikan tirai melalui symbol-simbol yang melingkupi segala bidang kehidupan manusia. Bermacam-macam makna, nilai dan kepercayaan yang ada dalam suatu masyarakat, akhirnya dapat dipersatukan dalam sebuah penafsiran menyeluruh tentang unsure realitas yang menghubungkan kehidupan manusia dengan dunia secara keseluruhan, sehingga sacara sosiologis dan psikologis memungkinkan manusia untuk merasa betah hidup dialam semesta, dan terhindar dari penyakit kesepian di tengah-tengah keramaian.

Agama menurut Ibn Khaldun adalah kebenaran yang turun dari Allah Swt, dengan perantaraan Rasul-Nya yang menumbuhkan kesadaran dalam diri manusia, kesadaran itu tumbuh bukan karma hasil dari pendidikan yang sengaja diadakan atau pengajaran ilmiah.

Kesadaran manusia yang timbul menyebabkan mereka mengadakan penilaian pada diri sendiri dari berbagai macam kelakuan yang tidak sesuai dengan agama atau keyakinan yang dianut. Kesadaran beragama menurun dikalangan manusia, dan agama merupakan cabang dari ilmu pengatahuan, maka agama akan diperoleh melalui pendidikan, dan kesadaran yang dating dari luar berupa hasil pendidikan tidak akan sekuat pengaruhnya dengan kesadaran beragama yang dating dari dalam diri manusia.

Untuk menciptakan suatu perdaban yang besar, maka diperlukan suatu silidaritas social yang kuat, soslidaritas ini sulit diciptakan hanya dengan bantuan ilmu pengetahuan atau ikatan kekerabatan, namun untuk menciptakan solidaritas social yang kuat maka adanya ikatan yang bersifat menyeluruh, dan agama adalah pengikat dalam membentuk solidaritas social Ashabiyah (Khaldun, 2001).

Agama sebagai sesuatu yang mengusung nilai-nilai moral dan dapat mempererat persatuan dikalangan ummat manusia, mengatur norma serta tatacara hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia, pada akhirnya akan menciptakan suatu interaksi social, dan etika hubungan antar individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok.

Dalam ajaran Islam agama dikenal dengan nama din yang secara bahasa berarti menguasai, patuh, menundukkan. Agama dalam artian syariat adalah ajaran yang diturunkan oleh Allah Swt dengan perantaraan Rasul-Nya, sebagai aturan berupa hukum yang mengatur hidup manusia, tentang cara berhubungan manusia dengan Tuhannya, manusia dengan manusia, manusia dengan mahluk ciptaan lainnya yang harus dipatuhi. Aturan itu berupa wahyu, sebagai pedoman penganut ajaran Islam.

Agama mengandung arti ikatan yang harus diptuhi manusia, ikatan ini memberikan pengaruh yang kuat terhadap pola perilaku manusia sehari-hari, ikatan itu berasal dari luar diri manusia yang tidak dapat dijangkau dengan akal fikiran dan ilmu pengetahuan.

Dalam agama terdapat unsure-unsur penting seperti kepercayaan tentang adanya kekuatan gaib, keyakinan manusia bahwa kesejahteraannya di dunia dan diakhirat tergantung pada adanya hubungan baik antara manusia dengan penciptanya serta dengan ciptaan lainnya (Nasution, 1985).

Ualam Islam membagi agama yang ada menjadi dua kelompok, yaitu agama yaitu pengakuan kepada Allah Swt yang tunggal dan tidak ada Tuhan selain Allah. Tidak ada perubahan dalam agama wahyu menganai aqidah, namun dalam hal muamalat dan syariat terdapat perubahan sepanjang hal tersebut tidak bertentangan dengan aqidah.

Agama bukan wahyu, yakni agama-agama yang timbul sebagai hasil kebudayaan dan perenungan yang mendalam dari fikiran manusia, namun hal yang bertentangan dengan tauhidlah yang dimasukkan dalam kategori agama bukan wahyu. Agama adalah suatu cirri kehiduapan social yang bersifat universal dalam arti bahwa semua lapisan masyarakat manusia mempunyai cara berfikir, pola perilaku yang bias memenuhi syarat disebut sebagai agama.

Roland Robertson, ada dua jenis utama definisi tentang agama dalam sosiologi yaitu inklusif dan eksklusif. Definisi inklusif merumuskan agama dalam arti yang luas sebagai system kepercayaan dan ritual yang diresapi kesucian, agama bukan saja sebagai suatu ajaran yang percaya pada adanya kekuatan supernatural tetapi juga berbagai kepercayaan yang berupa paham seperti komunisme, nasionalisme, humanisme. Sebaliknya, penganut paham eksklusif membatasi pengertian agama pada system kepercayaan pada eksistensi mahluk, atau kekuatan di luar mahluk.

Agama ialah suatu system kepercayaan yang disatukan oleh praktek yang berhubungan dangan hal-hal suci, berisi perintah dan larangan bersifat menyatukan suatu komunitas moral dan terpaut antara yang satu dengan yang lainnya (Ishomuddin, 2002).

Inti dari beberapa pengertian agama yangv dikemukakan di atas, mengandung empat unsure penting, yaitu :

1. Pengakuan bahwa ada kekuatan gaib yang menguasai atau mempengaruhi kehidupan manusia.

2. Keselamatan manusia tergantung adanya hubungan baik antara manusia dengan kekuatan gaib itu.

3. Sikap emosiaonal pada hari manusia terhadap kekuatan gaib, seperti sikap takut, hormat, cinta, pasrah dan lain-lain.

4. terdapat tingkah laku tertentu yang dapat diamati, seperti tatacara beribadah (Nasution, 1985).

Sejalan dengan apa yang dikemukakan Nasution, apa yang pernah dipaparkan oleh E. Durkhaim bahwa setiap religi mempunyai empat komponen, yakni emosi keagamaan, system kepercayaan, system upacara dan kelompok religius (komunitas). Berdasarkan pada konsep ini maka penulis berani menarik sebuah kesimpulan bahwa Towani Tolotang merupakan sebuah agama meski secara hukum tidak diakui oleh Negara.

Agama Towani Tolotang yang selama ini dikenal identik dengan agama Hindu ternyata mempunyai perbedaan yang mendasar dengan agama Hindu, baik dalam system peribadatan maupun dalam hal kepercayaan. Agama sebagai bentuk keyakinan manusia berfungsi dalam membentuk system nilai, motivasi maupun pedoman hidup.

Fromm (2001), agama membentuk kata hati berupa panggilan kembali manusia pada dirinya, kata hati adalah suatu moral dalam diri manusia berupa rasa benar dan rasa salah, suatu reaksi emosional yang didasarkan atas fakta bahwa dalam diri manusia terdapat suatu kekuatan yang dapat mengatur keharmonisan dirinya dengan tekanan kosmik. Pengaruh agama dalam kehidupan individu memberikan kemantapan batin, rasa bahagia, aman, perasaan positif, juga merupakan harapan akan masa depan kehidupan.

B. Interaksi Sosial

Manusia hidup dengan membawa sifat dasar, dengan bawaan dan pengalaman manusia hidup menyendiri dan berkelompok, dengan tujuan yang ingin dicapainya. Pada umumnya manusia menginginkan kehidupan yang harmonis secara pribadi maupun antar pribadi, hal itu disebabkan karena manusia memang mahluk yang serasi antara jasmani dan rohaninya. Dalam memenuhi keinginannya untuk mencapai kehidupan yang harmonis maka diperlukan hubungan dengan manusia yang lainnya, keadaan ini lazimnya kita kenal dengan istilah interaksi social.

S. Freud (dalam Soekanto, 1988), secara psikologis manusia dihayatkan pada tiga asas, pertama, azas kenikmatan yang membuat manusia yang membuat manusia untuk memiliki kecenderungan untuk mendapatkan kenikmatan sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri dan menghindari kesengsaraan. Kedua, azas realitas yang mengarahkan manusia untuk menghadapi kehidupan di luar yang tidak mungkin dihindarinya. Ketiga, azas keteguhan yang merupakan penyatuan dua azas sebelumnya yang mengarahkan manusia untuk mencari kenikmatan dengan tetap memperhatikan lingkungan masyarakat yang berada disekitarnya. Di sini tampak dengan jelas bagaimana pentingnya hubungan dalam masyarakat.

Manusia tidak akan mampu memenuhi kebutuhan hidupnya kalau hanya sendirian saja, mereka tentunya memerlukan bantuan manusia lainnya. Bergotong royong merupakan salah satu bentuk untuk mencapai tujuan yang diinginkan, pada saat bergotong royong akan terjadi interaksi social antara manusia (Khaldun, 2001).

Hubungan interaksi social merupakan suatu kemutlakan, hal ini disebabkan adanya nilai, norma, aturan yang merupakan aturan bersama, dimana kesemuanya menjadi suatu ikatan yang menyatukan manusia dalam suatu system kehidupan social.

Interaksi merupakan kunci dari proses kehidupan social, karena tanpa adanya interaksi social tidak mungkin adanya kehidupan bersama yang harmonis. Kimball Young (dalam Soemarjan, 1974). Interaksi social merupakan syarat utama dalam aktivitas kehidupan manusia, dalam berinteraksi itulah akan dilihat peran dan kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan manusia lainnya.

Dalam masyarakat akan terjadi intaraksi timbal balik antara individu dengan individu lainnya sehingga memunculkan suatu tatanan social yang harmaonis. Simmel (dalam Johnson, 1986), mengartikan hal ini sebagai sosiasi atau sosialisasi, namun hal ini tidaklah sama artinya dengan sosialisasi sebagai sebuah bentuk pembelajaran terhadap suatu kebudayaan atau masyarakat., namun sosialisasi di sini diartikan sebagai proses dengan mana seorang individu itu menjadi bagian dari masyarakat melalui suatu interaksi.

Interaksi diartikan sebagai alat untuk mencapai tujuan dan memenuhi pelbagai kepentingan, dan dalam hal ini ada saling ketergantungan antara stuktur social dengan yang lainnya, Marx (dalam Fromm, 2001), mengemukakan bahwa interaksi sosil adalah adanya ketergantungan antara stuktur social yang dijembatani oleh struktur ekonomi, proses social yang ditekankan oleh Marx adalah adanya konflik kelas. Sedangkan Durkheim (dalam Johnson, 1986), memnekankan interaksi social terjadi karena adanya kesadaran kolektif secara bersama-sama guna menciptakan suatu tatanan social serta keteraturan social dalam masyarakat.

Interaksi social terdiri dari dua suku kata, yaitu interaksi dan social. Kedua kata ini merupakan serapan dari bahasa Inggris interaction dan social, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 1996), kata interaksi diartikan hubungan yang dinamis antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, kelompok dengan kelompok yang saling mempengaruhi. Sedangkan dalam bahasa Inggris, interaction berarti pengaruh timbale balik, dan saling mempengaruhi (Echols, 1996).

Social berarti segala sesuatu yang menyangkut masyarakat, kemasyarakatan. Secara etimologi interaksi social adalah hubungan social yang bersifat interaktif, interdependensi, dan interfelatif yang dinamis antara individu, individu dengan kelompok, dan antar kelompok yang satu dengan kelompok yang lainnya dalam masyarakat.

Soekanto (2001), mengemukakan defenisi interaksi social atau proses social sebagai cara-cara berhubungan yang dilihat apabila orang perseorangan dan kelompok-kelompok social bertemu dan menetukan system serta bentuk-bentuk tersebutatau apa yang akan terjadi apabila ada perubahan-perubahan yang menyebabkan goyahnya pola-pola kehidupan yang telah ada. Interaksi social adalah pengaruh timbale balik antara pelbagi segi kehidupan bersama, misalnya, pengaruh-mempengaruhi antara social dan politik, politik dengan ekonomi, ekonomi dan hukum.

Bonner dalam (Ahmadi,1999), mengungkapkan bahwa interaksi social adalah suatu hubungan antara dua individu atau lebih, dimana salah satu diantaranya dapat mempengaruhi yang lainnya. Hartini dan Kartasaputra (1992), mendefenisikan interaksi social sebagai suatu proses social yang menyangkut hubungan timbal balik keseluruhan individu, kelompok, masyarakat, hubungan interaksional ketiganya.

Soekanto (2001), memberikan definisi interaksi social sebagai peristiwa yang hadir dalam bentuk pengaruh mempengaruhi atau saling mempengaruhi yang terjadi dalam kehidupan social masyarakat, dimana proses tersebut menghasilkan hubungan tetap dalam kehidupan masyarakat.

Proses terjadinya interaksi social dalam masyarakat tentu dipengaruhi beberapa factor, antara lain factor imitasi, sugesti, identifikasi dan simpati. Factor-faktor tersebut dapat berfungsi sendiri-sendiri secara terpisah maupun dalam bentuk menyatu dengan factor yang lainnya, di samping beberapa factor yang menyebabkan terjadinya interaksi social hal penting harus diperhatikan adalah syarat-syarat terjadinya interaksi social.

Hal pokok yang menunjang terjadinya interaksi social dalam masyarakat yaitu : Pertama, adanya kontak social, terjadinya hubungan dengan pihak lain, hubungan yang dimaksud tidak saja dalam bentuk pertemuan secara langsung antar individu dengan individu, atau individu dengan kelompok, dan kelompok dengan kelompok yang lainnya akan tetapi bias juga berarti kontak hanya melalui alat bantu seperti telepon, surat dan lain-lain.

Kedua, adanya komunikasi, adalah bahwa adanya kemampuan dalam menafsirkan sikap, perkataan dan perilaku orang lain, serta mampumemberikan reaksi terhadap perasaan yang diinginkan dari orang lain tersebut, dengan demikian komunikasi memungkinkan dapat menghasilkan kerjasama yang baik bahkan mungkin akan terjadi pertikaian dari kesalah fahaman (Soekanto, 2001).

Proses interaksi yang terjadi dalam masyarakat tidak secara kebetulan, melainkan tumbuh berdasarkan kepentingan antar individudengan anggota masyarakat lainnya, karena setiap individu menganut dan mengikuti pengertian-pengertian yang sama mengenai situasi tertentu dalam bentuk norma-norma social, maka tingkah laku anggota masyarakat kemudian terjalin dalam bentuk suatu stuktur social tertentu (Nasikun, 2001).

C. Masyarakat

Konsep tentang masyarakat, telah banyak dibicarakan oleh para ahli, utamanya ahli sosiologi. Emile Durkheim sosiolog Prancis mengatakan bahwa masyarakat adalah keseluruhan organisme yang memiliki realitas tersendiri dan bersifat sistematik. Sebagai organisme, keseluruhan aktifitas masyarakat sangat ditentukan adanya keteraturan fungsional yang ada pada masing-masing sub system.

Keseluruhan organisme memiliki seperangkat kebutuhan yang harus dipenuhi oleh bagian-bagian yang menjadi anggotanya agar keadaan normal tetap berlangsung (Taneko, 1986). Lebih lanjut Durkheim mengatakan bahwa masyarakat merupakan sumber dan dasar segala-galanya yang di dalamnya individu sama sekali tidak mempunyai arti dan arti dan kedudukan, masyarakat itu tidak tergantung pada anggota-anggota, melainkan terdiri dari suatu struktur adapt istiadat, kepercayaan sebagai suatu lingkungan hidup yang terorganisasi, masyarakat bukan suatu yang abstrak, melainkan suatu yang nyata (Muhni, 1994).

Hidup bermasyarakat sangat penting bagi manusia, ia tidak sempurna dan tidak dapat hidup sendiri secara berkelanjutan tanpa mengadakan hubungan dengan masyarakat lainnya. Adham Nasution (dalam Abdulsyani, 1994), menjelaskan bahwa hidup bermasyarakat mutlak bagi manusia agar ia dapat menjadi manusia dalam arti yang sesungguhnya, yakni sebagai human being, bukan dalam arti biologis, tetapi benar-benar ia dapat berfungsi sebagai manusia yang mampu bermasyarakat dan berbudaya.

Shadily (1983), menyatakan bahwa masyarakat adalah golongan besar atau kecil yang terdiri dari beberapa manusia, yang dengan atau karena sendirinya berkaitan dengan segolongan dan mempengaruhi satu sama lain. Masyarakat ada bukannya hanya dengan menjumlahkan orang-orang saja, akan tetapi diantara mereka ada interaksi antara satu dengan yang lainya, setiap anggotanya harus sadar akan adanya orang atau kelompok lain. Shadily juga memandang masyarakat sebagai satu kesatuan yang selalu berubah, yang hidup karena proses manusia yang menyebabkan perubahan itu.

Masyarakat dalam pandangan Islam (Kaelany, 1992), adalah alat atau sarana untuk melakukan dakwa yang menyangkut kehidupan bersama. Karena itu masyarakat harus menjadi dasar kerangka kehidupan dunia bagi kesatuan kerja sama ummat menuju adanya suatu pertumbuhan manusia yang mewujudkan persamaan dalam keadilan. Pembinaan masyarakat haruslah dimulai dari individu-individu.

Isalam mengajarkan bahwa kualitas manusia dari satu segi bias dipandang dari mamfaatnya bagi manusia lainnya, dengan pandangan dan fungsi individu inilah Islam memberikan aturan moral bagi manusia, aturan moral didasarkan pada suatu system nilai berdasar nilai keagamaan, seperti ketakwaan, penyerahan diri, hikma kasih sayang, keadilan, kebenaran dan sebagainya.

Menurut Abdulsyani (1994), bahwa perkataan masyarakat berasal dari bahasa Arab yakni musyarak, yang berarti bersama-sama, kemudian menjadi masyarakat yang berarti berkumpul bersama, hidup bersama dengan saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Sementara dalam bahsa Inggris kata masyarakat diartikan dalam dua pengertian yaitu Society dan Community.

Abdulsyani (1997), juga menambahkan bahwa masyarakat sebagai community dapat dilihat dari dua sudut pandang : Pertama, memandang community sebagai sesuatu yang statis, artinya community terbentuk dalam suatu wadah dengan batas-batas tertentu, maka ia menunjukkan bagian dari kesatuan-kesatuan masyarakat sehingga ia dapat pula disebut masyarakat setempat. Misalnya kampong, dusun atau kota-kota kecil.

Masyarakat setempat adalah suatu wadah dan wilayah dari kehidupan sekelompok orang yang ditandai oleh adanya hubungan social, disamping itu dilengkapi pula oleh adanya peradapan social, nilai-nilai dan yang timbul akibat dari adanya pergaulan hidup atau hidup bersama. Kedua, community dipandang sebagai unsure yang dinamis, dalam artian menyangkut suatu proses yang terbentuk melalui factor psikologis dan hubungan antar manusia, maka di dalamnya terkandung unsur-unsur kepentingan, keinginan atau tujuan-tujuan yang sifatnya fungsional.

Pandangan ini bertolak dari teori Tonnis (1983), tentang masyarakat yang membaginya dalam dua kelompok yakni gemeinschaft dan gesellschalf dimana gemeinschaft berupa persekutuan hidup dimana orang-orang memelihara hubungan berdasarkan keturunan, keluarga dan famili dalam arti yangseluas-luasnya. Pertalian yang erat dalam golongan ini menyebabkan perasaan satu, sehingga persekutuan itu hanya dapat bergerak sebagai satu badan yang hidup bersatu jiwa, yang menghasilkan kebiasaan bersama, yang bila mana dipelihara cukup lama akan mengukuhkan menjadi adat dan tradisi.

Gesellchaft berbeda dengan Gemeinschaft, yang berarti perkongsian hidup, dimana orang-orang hidup dalam kelompok berdasarkan kepentingan dan kebutuhan terhadap anggota masyarakat yang lainnya dantidakan yang dilakukannya berdasarkan di belakangnya. Mereka menjadi anggota kelompok untuk memenuhi tujuan hidupnya melalui kelompok masyarakat yang ada dan bila mana kelompok tersebut tidak lagi mampu untuk memenuhi kepentingan mereka akan melepaskan diri dari kelompok yang bersangkutan.

Dari kedua cirri yang dikemukakan di atas, dapat dipahami bahwa apabila suatu masyarakat tidak memenuhi syarata tersebut, maka ia dapat disebut masyarakat dalam artian society. Masyarakat dalam pengertian society terdapat interaksi social, perubahan-perubahan social, perhitungan-perhitungan rasional, serta hubungan-hubungan menjadi pamrih dan ekonomis.

Menurut Soerjono Soekanto dalam (Abdulsyani, 1994), masyarakat adalah suatu pergaulan hidup atau suatu bentuk kehidupan manusia secara bersama-sama, maka masyarakat itu mempunyai cirri-ciri pokok, manusia yang hidup bersama. Di dalam ilmu social tidak ada ukuran yang mutlak ataupun angka yang pasti untuk menentukan berapa jumlah manusia yang harus ada, akan tetapi secara teoritis angka minimumnya ada dua orang yang hidup bersama.

Bercampur dalam waktu yang lama. Kumpulan dari manusia tidaklah sama dengan kumpulan benda-benda mati seperti kursi, meja dan sebagainya. Oleh kerena berkumpuknya manusia, maka akan timbul manusia-manusia baru, yang dapat bercakap-cakap, merasa dan mengerti, mempunyai keinginan untuk menaympaikan kesan dan perasaannya. Sebagai akibat dari hidup bersama itu, timbullah system komunikasidan timbullah peraturan-peraturan yang mengatur hubungan antar manusia dalam kelompok tersebut, mereka sadar bahwa mereka satu kesatuan. Mereka merupakan satu system hidup bersama. System hidup bersama menimbulkan kebudayaan, oleh karena setiap amggota kelompok merasa dirinya terikat dengan yang lainnya.

Cirri-ciri masyarakat sejalan dengan apa yang pernah diungkapkan oleh J.L. Gilin dan J.P. Gillin (Soemarjan, 1974), bahwa masyarakat adalah kelompok manusia yang tersebar dan mempunyai kebiasaan, tradisi, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Sementara Aguste Comte (dalam Abdulsyani, 1995), memberi penekanan bahwa masyarakat adalah merupakan kelmpok-kelompok mahluk hidup dengan realitas-realitas baru yang berkembang menurut hukum-hukumnya sendiridan berkembang menurut pola perkembangannya sendiri. Masyarakat dapat memberi yang bagi manusia, sehingga tanpa adanya kelompok, manusia tidak akan mampu untuk berbuat banyak dalam hidupnya.

Menurut Darmawansyah (1986), masyarakat adalah kelompok manusia yang saling berinteraksi, yang memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut dan adanya saling keterikatan untuk mencapai tujuan bersama. Masyarakat adalah tempat kita bias menyaksikan individu sebagai input dari keluarga, keluarga sebagai tempat berproses, dan masyarakat sebagai, output dari proyeksi tersebut, yang pada akhirnya akan membentuk suatu system social.

Penganut teori fungsional memandang masyarakatsebagai suatu system social yang terdiri dari bagian-bagian tertentu saling menunjang antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, dan saling menyatu dalam menjaga keseimbangan, apabila terjadi perubahan dalam satu bagian tertentu dalam masyarakat akan mengakibatkan pula perubahan pada bagian yang lainnya. Semua struktur dalam masyarakat memberikan sumbangan terhadap yang lainnya dan sangat diperlukan dalam menjaga keseimbangan, dan perubahan yang terjadi dalam masyarakat terjadi secara perlahan.

Teori fungsional memandang masyarakat selalu berada dalam keadaan statis dan berimbang, maka lain halnya dengan penganut teori konflik, penganut teori ini memandang bahwa keseimbangan dalam masyarakat terjadi karena adanya tekanan dari penguasa terhadap pihak yang dikuasai, dan setiap elemen yang ada dalam masyarakat memberikan sumbangan dalam mendisintegrasikan masyarakat, sehingga berakibat pada terjadinya konflik antara golongan dalam masyarakat (Ritzer, 2000).

Stuktur masyarakat Indinesia ditandai oleh dua cirri khas yang bersifat unik. Secara horizontal, masyarakat Indonesia terdiri atas kesatuan-kesatuan yang berbeda antar suku bangsa, perbedaan agama, adapt istiadat serta system kedaerahan pada masing-masing kelompok social, perbedaan latar belakang inilah yang mengakibatkan adanya pelapisan social.

Secara vertical, antara lapisan atas dalam hal ini kaum bangsawan dengan lapisan bawah atau masyarakat biasa. Perbedaan ini cukup menyolok dikalangan masyarakat, yang masih tinggal di daerah kota dan pedalaman, sehingga keadaan ini sering disebut sebagai cirri masyarakat Indonesia yang majemuk (Nasikun, 2001).

Suatu system social adalah consensus diantara para anggota masyarakat mengenai nilai-nilai kemasyarakatan tertentu, terdapat tujuan-tujuan dan prinsip-prinsip dasar tertentu trhadap mana sebagian anggota masyarakat menganggap serta menerimanya sebagai suatu hal yang mutlak dan benar. System ini berfungsi untuk menstabilir system nilai yang ada dalam masyarakat itu sendiri.

System social pada dasarnya, tidak lain adalah suatu tindakan, yang terbentuk dari interaksi social yang terjadi antar individu, dan tumbuh berkembang tidak secara kebetulan, melainkan tumbuh dan berkembang di atas kesadaran dan standar tertentu yang telah disepakati bersama oleh anggota masyarakat. Perubahan system social pada umumnya terjadi secara gradual, melalui berbagai proses dan penyesuaian, dan tidak secara revolusioner.

Perubahan-perubahan yang terjadi secara cepat terhadap suatu system social hanyalah terjadi pada bentuk luarnya saja, namun secara sutansial tidaklah terjadi suatu perubahan secara mendasar. Dalam setiap system social itu terdapat apa yang kita kenal dengan istilah noma-norma social, hal inilah yang membentuk suatu stuktur social.

D. Towani Tolotang

Towani Tolotang merupakan salah satu kelompok social yang mendiami kelurahan Amparita. Tolotang juga merupakan sebutan bagi aliran kepercayaan yang mereka anut, namun kelompok ini menurut asal usulnya bukanlah penduduk asli Amparita. Menurut asal usulnya, nenek moyanh Tolotang, berasal dari desa Wani sebuah desa di kabupaten Wajo.

Ketika Arung Matoa Wajo (La Sungkuru), memeluk agama Islam pada abad ke XVII, beliau mengajak rakyatnya agar menerima ajaran baru itu, dan besar penduduk Wajo menerima Islam sebagai agama mereka, akan tetapi sebagaian masyarakat desa Wani menolak ajaran tersebut, mereka tetap memegang ajaran yang diterima dari leluhur. Komunitas yang tetap mempertahankan ajaran tersebut merasa terdesak dengan perkembangan agama baru yakni Islam, kemudian mengungsi ke daerah Sidenreng Rappang.

Istilah Tolotang semula dipakai oleh raja Sidenreng sebagai panggilan kepada pengungsi yang baru dating di negerinya. To (tau) dalam bahasa Bugis berarti orang, sedangkan lotang dari kata lautang yang berarti arah selatan, maksudnya adalah sebelah selatan Amparita, terdapat pemukiman pendatang, jadi Tolotang artinya orang-orang yang tinggal di sebelah selatan kelurahan Amparita, sekaligus menjadi nama bagi aliran kepercayaan mereka.

Muzhar (dalam Mukhlis, 1985), addtuang Sidenreng sebelum menerima kelompok pendatang dari desa Wani, terlebih dahulu menyepakati perjanjian yang dikenal dengan Ade’ Mappura OnroE yang pokok isinya adalah ;

1. Ade’ Mappura OnroE

2. Wari Riaritutui

3. Janci Ripaaseri

4. Rapang Ripannennungeng

5. Agamae Ritwnrei Mabbere

Artinya :

1. Adat Sidenreng tetap utuh dan harus ditaati

2. Keputusan harus dipelihara dengan baik

3. Janji harus ditepati

4. Suatu keputusan yang berlaku harus dilesterikan

5. Agama Islam harus diagungkan dan dilaksanakan

Empat dari lima dari perjanjian tersebut diterima secara utuh, kecuali isi perjanjian yang terakhir, hanya diterima dalam dua yakni pelaksanaan pernikahan dan pengurusan jenazah, itu pun tidak menyeluruh sebagai mana yang ada dalam ajaran Islam.

Komunitas Tolotang terbagi atas dua kelompok besar atau sekte, yakni Towani Tolotang dan Tolotang Benteng, walau pun Tolotang terbagi dalam dua kelompok besar, namun dalam system keprcayaan tidak terdapat perbedaan yang mendasar, hanya saja kelompok Tolotang Benteng pada kartu identitas tertulis agama Islam, sedang kelompok Towani Tolotang tertulis Hindu.

Praktek pelaksanaan tatacara peribadatan dan system kepercayaan berbeda dengan system yang dianut dalam jaran Hindu bahkan lebih cenderung ke ajaran Islam, jadi penganutan terhadap suatu agama mereka akui tetapi dalam hati paham agama yang asli tetap dipertahankan , oleh Bosch disebut dengan istilah local genius (Ishomuddin, 2002).

Kepercayaan Tolotang bersumber dari kepercayaan tentang Sawerigading, sebagai mana mana yang dipahami masyarakat Bugis pada umumnya. Meskipun orang-orang Tolotang bukanlah penduduk asli Amparita, tetapi mereka termasuk suku Bugis yang memiliki sejarah, budaya, adapt istiadat dan bahasa yang sama dengan suku bugis kebanyakan.

Setiap masyarakat mempunya system pelapisan social yang berbeda antara satu golongan dengan golongan yang lainnya, pada komunitas Tolotang pelapisan masyarakat didasarkan pada system pertalian dara dan keturunan, namun dalam gelar bangsawan Tolotang tidaklah sama dengan yang dipakai dikalangan masyarakat Bugis, ukuran ini tidak lepas dari sejarah Tolotang itu sendiri. Golongan Uwa menempati posisi tertinggi, pada tingkatan ini terbagi pada dua gologan yakni Uwatta sebagai toko sentral dan Uwa yang berada satu tingkat di bawahnya, kemudian golongan To Sama, yang terdiri dari masyarakat biasa.

E. Kerangka Pikir

Dari beberapa landasan teori yang telah dikemukakan sebelumnya pada prinsipnya bahwa terjadinya interaksi social dikalangan masyarakat Towani Tolotang merupakan aplikasi dari konsep agama yang mereka pahami sebaga suatu ajaran yang harus diamalkan dalam proses kehidupan bermasyarakat, baik dengan masyarakat Tolotang maupun masyarakat yang tidak termasuk Tolotang, kerena apapun yang mereka lakukan dianggap mempunyai nilai ibadah dan akan mendapat pahala sesuai dengan amal perbuatan yang telah dilakukan.

Esensi ajaran agama bagi Towani Tolotang sangat penting untuk diketahui dan diamalkan dalam kehidupan social tanpa harus memandang dengan golongan mana kita melakukan interaksi. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada rumusan kerangka pikir agama sebagai konsep social masyarakat Towani Tolotang, serta nilai-nilai luhur dan yang menyebabkan terjadinya interaksi social sebagai aplikasi dar rasa keberagamaan masyarakat Towani Tolotang.

Secara sederhana dapat dilihat pada skema kerangka pikir gambar 1 :

Curved Up Ribbon: Konsep Bragama Masyarakat Towani Tolotang


Rounded Rectangle: Integrasi Nilai Keberagaan  Terhadap Sistem Sosial

Gambar 1 : Kerangka Pikir

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Peneliti terjun secara langsung ke lapangan mengamati proses social yang terjadi pada masyarakat Towani Tolotang. Penelitian kualitatif lebih mengutamakan proses dari pada produk. Penekanan utama penelitian kualitatif terletak pada proses (Zamroni, 1992).

Penelitian ini menggunakan pendekatan penomenologis, suatu pendekatan dalam penelitian dalam penelitian kualitatif yang bertujuan memahami makna setiap peristiwa dan relevansinya terhadap orang-orang yang menjadi bagian dari peristiwa tersebut (Moleong, 2001). Hal-hal yang ditemukan di lapangan diinterpretasi tanapa adanya maksud untuk memanipulasi, merekayasa, mengintervensi, dan mengontrol data sedikit mungkin. Aplikasi metode dan pendekatan ini dimaksudkan untuk akurasi data dan lebih mempropesionalkan pendeskripsian hasil penelitian. Penelitian ini mengambil lokasi di Kelurahan Amparita, Kecamatan Tellu Limpoe, Kabupaten Sidrap, sebuah daerah yang mayoritas penduduknya suku bugis.

Tellu Limpoe merupakan salah satu Kecamatan di antara delapan Kecamatan yang ada di Kabupaten Sidrap, Panca Lautang, Tellu Limpoe, Watang Pulu, Panca Rijang, Maritenggae, Dua Pitue, Pitu Riase (pemekaran dari Kec. Dua Pitue).

Di Kelurahan Amparita, peneliti mengamati secara lansung kehidupan dan interaksi social masyarakat Towani Tolotang sebagai aplikasi dari system keberagamaan.

B. Definisi Konsep (Pengrtian Konsep)

Untuk mendapatkan pemahaman yang lebih jelas mengenai masalah yang diteliti maka dipanang perlu memberikan definisi operasional variable sebagai berikut :

1. Agama adalah, system, prinsip kepercayaan pada Tuhan Yang Maha Esa atau Dewa dengan ajaran kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan kepercayaan itu.

2. Konsep adalah gambaran mental dari objek, atau pengertian yang diabtrakkan dari peristiwa kongkrit untuk memahami hal-hal lain.

3. Masyarakat adalah sejumlah manusia dalam arti seluas-luasnya dan terikat oleh kebudayaan yang dianggap sama

4. Towani Tolotang adalah komunitas masyarakat yang berasal dari desa Wani di Kabupaten Wajo yang menetap di sebelah selatan Amparita, sekaligus menjadi nama untuk aliran atau agama yang mereka anut.

5. Integrasi dalam hal ini dipahami sebagai prosespenyesuaian antara unsur agama dala kehidupan social sehingga mencapai satu keserasian fungsi dalam masyarakat.

C. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu :

1. Teknik observasi, yaitu melakukan pengamatan langsung secara intensif terhadap perilaku beragama serta kerjasama yang terjadi pada masyarakat Towani Tolotang.

2. Teknik wawancara, pengumpulan data di lapangan menyangkut perilaku beragama dan proses interaksi social masyarakat Towani Tolotang, dilakukan dengan cara wawancara atas dasar daftar pertayaan yang telah dibuat untuk kemudian didiskripsikan. Informan kunci, dipilih secara pupossive dengan pertimbangan pengetahuan agama, status social dan golongan dalam masyarakat yang memahami nilai-nilai agama Towani Tolotang. Untuk menentukan informan kunci lebih dahulu didapat informan pangkal yang dapat memeberikan keterangan kepada peneliti petunjuk-petunjuk lain tentang adanya individu lain dalam masyarakat yang dapat memberikan berbagai keterangan lebih lanjut yang diperlukan peneliti, informan inilah yang menjadi informan kunci atau key informan. Orang yang ahli secara mendalam tentang unsure-unsur tertentu dalam masyarakat yang sedang menjadi objek penelitian seperti tokoh agama, tokoh pemuda, pemka masyarakat, guru dan kepala adapt (Koencaraningrat, 1973).

3. Data sekunder, yakni data data yang diperoleh dari bahan kepustakaan dan lembaga atau instansi yang berkaitan dengan permasalahan, data ini dimaksudkan untuk melengkapi data primer.

D. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses pengatur urutan data, mengorganisasikan ke dalam satu pola, kategori, dan satu uraian dasar. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif, maka analisis berlangsung sejak pertama kali ke lapangan samapai pengumpulan data telah menjawab permasalahan yang ada, Patton dalam (Moleong,2001).

Sejumlah fakta yang diperoleh di lapangan dikumpulkan dengan cara menuliskan atau mengadopsi, mengedit, mengklasifikasi, meredksi untuk kemudian disajikan.

Sebagai penelitian yang mengutamakan proses, maka system di atas dilakukan secara berkesinambungan dengan memulai pengumpulan data yang diperoleh di lapangan yang telah disesuaikan dengan focus atau masalah penelitin. Mengedit, mengklsifikasi data yang diperoleh dari informan kunci sesuai dengan focus penelitian. Hasil wawancara bebas dan observasi lapangan yang merupakan data kualitatif itu diolah sesuai dengan mekanisme yang telah diterangkan di atas, kemudian hasilnya disesuaikan dengan masalah penelitian yang ada.

BAB IV

DESKRIPSI WILAYAH PENELITIAN

A. Letak Geografis dan Ekologis

Kelurahan Amparita yang dibicarakan dalam kajian ini terletak disebelah selatan kota Kabupaten Sidrap, dengan jarak 9 km2 dari pusat kota Kabupaten Sidrapserta, 221 km dari ibukota Propensi. Kelurahan Amparita berada dalam wilayah Kecamatan Tellu Limpoe. Batas-batas wilayah sebagai berikut. Sebelah utara berbatasan dengan Kelurahan Aratang, sebelah timur berbatasan dengan Desa Teteaji, Sebelah selatan berbatasan dengan Kelurahan Pajalele, dan sebelah barat berbatasan dengan Kelurahan Toddang Pulu dan Kelurahan Baula, dua kelurahan terakhir secara administrative merupakan wilayah Kelurahan Amparita sebelum adanya pemekaran wilayah, dengan luas wilayah 364,74 km2.

Wilayah Kelurahan Amparita yang terdiri atas daratan yang memiliki curah hujan yang cukup tinggi sehingga penduduk sekitarnya kebanyakakan adalah petani. Kelurahan Amparita merupakan suatu tempat yang pertama kalinya dihuni oleh pendatang dari Desa Wani, kemudian dalam perkembangannya telah bercampur dengan penduduk suku Bugis yang lainnya.

Lembaga pemerintahan di Amparita dipimpin oleh seorang lurah, dalam menjalankan tugasnya sehari-hari ia dibantu oleh seorang sekertaris, seorang kepala urusan, dua orang kepala dusun, yaitu kepala Dusun Pakkawarue dan Kepala Dusun Sudatu, masing-masing kepala dusun membahi dua orang rukun kampong, serta seorang kepala perswahan.

B. Keadaan Penduduk

Sebelum dimekarkan wilayah Amparita meliputi ; Baula, Toddang Pulu, Aratang serta Amparita dengan jumlah penduduk yang sangat padat. Dengan adanya pemekaran maka dengan sendirinya penduduk Kelurahan Amparita ikut berkurang. Menurut hasil SENSUS yang dilakukan yang dilakukan oleh BKKBN Kabupaten Sidrap bulan Juni 2003 jumlah penduduk kelurahan Amparita sebanyak 3. 723 jiwa, dengan perincian 1.720 laki-laki, dan 2.603 jiwa perempuan (Kantor Lurah Amprita, 2003).

Penyebaran penduduk terkonsentrasi pada tempat yang berada di dekat jalan raya dan pasar Amparita. Tingkat pendidikan di Kelurahan Amparita bias dikatakan berpariasi hal itu dapat dilihat pada table berikut ini.

Table 1 : Keadaan Penduduk Berdasarkan Tingkat Pendidikan

No Tingkat Pendidikan Jumlah

1. Sekolah Dasar 1. 419 orang

2. SLTP/MTs 1. 497 orang

3. SMU 429 orang

4. D1/D3 13 orang

5. S1 13 orang

6. S2 2 orang

Total 3. 373 orang

Sumber data : Kantor Lurah Amparita 2003

Dalam lapangan pekerjaan masyarakat Amparita lebih banyak yang berprofesi sebagai petani hal ini disebabkan oleh kondisi alam yang memang berada di daerah agraris, selain petani ada juga yang berprofesi sebagai PNS, TNI/POLRI dan sisanya adalah pekerja swasta dan tukang.

Pada table 2 akan digambarkan jumlah penduduk Kelurahan Amparita berdasarkan Janis pekerjaan.

Table 2 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Pekerjaan

No Jenis Pekerjaan Jumlah

1. PegawaiNegeri Sipil 53 orang

2. TNI / POLRI 10 orang

3. Swasta 5 orang

4. Tukang 9 orang

5. Petani 2.549 orang

Total 2.629 orang

Sumber data : Kantor Lurah Amparita 2003

C. Stratifikasi Sosial

Setiap anggota masyarakat di mana pun mempunyai pelapisan social, hal demikian ini terjadi karena adanya system penghargaan dalam masyarakat terhadap suatu golongan masyarakat dengan golongan masyarakat yang lainnya. Penghargaan yang diberikan biasanya terjadi karena beberapa hal yang menunjang seperti tingkat ekonomi, kekuasaan, ilmu pengetahuan, kesalehan dalam bidang agama dan pertalian darah.

Sorikin dalam (Soemarjan, 2001), mengatakan bahwa system pelapisan dalam masyarakat merupakan ciri yang tetap dan umum dalam setiap masyarakat yang hidup teratur, bentuk lapisan masyarakat berbeda sesuai dengan kondisi masyarakat yang bersangkutan. Lapisan masyarakat itu mulai ada sejak manusia mengenal kehidupan bersama di dalam suatu organisasi social.

Masyarakat Tolotang juga mengenal system pelapisan social, ukuran yang paling menonjol adalah factor turunan, factor ini sangat menetukan dalam pemberian penghargaan di samping factor yang lainnya. Ukuran ini tidak lepas dari sejarah Tolotang itu sendiri yang menganggap pemimpi-pemimpin mereka adalah keturunan dari Sawerigading (nenek moyang orang Bugis) atau La Panaungi, yang bergelar Uwa atau Uwatta beserta keturunannya yang menduduki lapisan atas sebagai mana kedudukan dalam bangawan Bugis kebanyakan.

Lapisan social masyarakat yang lainnya adalah Tosama atau golongan masyarakat biasa, sedangkan system perbudakan yang dalam masyarakat Bugis dikenal dengan sebutan Ata sudah tidak lagi dipraktekkan oleh masyarakat Tolotang sebagaimana yang terjadi pada masyarakat Bugis dengan terjadinya perubahan nilai dari masyarakat feodal ke modern.

Pelapisan social masyarakat yang sudah terpola dalam masyarakat Towani Tolotang sampai saat ini tetap dipertahankan kecuali golongan ketiga. Dikalangan Uwa masih terdapat lapisan yang menempati kedudukan tertinggi dalam masyarakat, hal ini diukur berdasarkan tiwi bunga untuk kalangan ini memakai gelar Uwatta Battoae, dan hal ini berpindah berdasarkan garis keturunan.

Karena yang dijadiakan ukuran dalam system pelapisan social Towani Tolotang berdasarkan pertalian darah, maka pelapisan itu bersifat tertutup. Mobilitas horizontal dari strata bawah ke strata atas sulit sekali terjadi, hal yang sering terjadi adalah mobilitas vertical dalam lingkup masing-masing lapisan, misalnya seorang Uwa yang tadinya tidak Tiwi Bunga, namun setelah Tiwi Bunga dipercayakan padanya dengan sendirinya posisinya menjadi terangkat.

Ukuran lain dari stratifikasi social pada masyarakat Towani Tolotang adalah tingkat pendidikan, dikalangan pemimpin mereka ditetapkan criteria khusus yang harus dipenuhi untuk mendapatkan gelar Uwatta Battoae, yang saat ini dipercayakan kepada Uwa Temmbong, adapun keriteria tersebut adalah. (1) memahami dengan baik adat istiadat Towani Tolotang (makkiade), (2) cerdas dan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi, cerdas dalam hal ini tidak mesti memiliki tingkat pendidikan yang tinggi(macca atau panrita), (3) memiliki kepekaan dan solidaritas social yang tinggi (mapesse), (4) memiliki keperibadian sebagai laki-laki pemberani (tau warani).

Tingkat pendidikan dan kemapanan dalam bidang ekonomi dalam masyarakat Towani Tolotang bukan merupakan factor yang dapat mengangkat status social dari golongan Tosama menjadi golongan Uwa atau Uwatta karena system pelapisan social dikalangan Towani Tolotang bersifat tertutup, dan tidak pernah terjadi pelapisan social secara vertical.

Mengacu pada otoritas yang dijadikan Towani Tolotang sebagai syarat untuk jadi seorang pemimpin tertinggi, maka hai ini sejalan dengan apa yang dikemukakan oleh Weber sebagai pola kepemimpinan otoritas kharismatik (Johson, 1986).

Ukuran lain seperti pewnguasaan ilmu pengetahuan, kedudukan formal serta kekayaan yang dapat memberikan pengaruh serta menentukan posisi dalam masyarakat yang menganut system pelapisan terbuka, hampir tidak memberikan pengaruh dalam system pelapisan social Towani Tolotang sepanjang mereka bukan dari golongan Uwa, sekalipun menduduki posisi tertinggi dalam dalam strata Tosama. Sebaliknya seseorang tidak pernah mengikuti pendidikan formal atau hanya bekerja sebagai petani biasa tetapi mereka berasal dari golongan Uwa yang memiliki kategori Tiwi Bunga tetap dipandang memiliki kedudukan yang tinggi dalam masyarakat Towani Tolotang.

Golongan Uwa senantiasa untuk tetap mempertahnkan kemurnian keturunan dalam rangka kontinuitasnya, mereka menyadari bahwa latar belakang timbulnya penghargaan dan penilaian berpangkal pada sejarah keberadaan Tolotang, yang meletakkan nilai tertinggi pada keturunan La Panaungi atau Sawerigading yang menurutnya dapat berkomunikasi dengan Dewata Sewae merupakan factor yang sangat diperhatikan.

Symbol-simbol budaya yang mencerminkan system berlapis tetap tampak pada pelaksanaan upacara-upacara yang berkaitan dengan adat dan tradisi mereka, seperti pada upacara perkawinan, kelahiran anak dan kematian.

Di samping itu symbol ini juga nampak arsitektur bangunan tempat tinggal atau rumah, di mana rumah yang terdiri atas rumah panggung dengan tiang-tiang bulat atau persegi delapan bagi golongan Uwa, dan persegi empat bagi golongan Tosama. Rumah Uwa pada umumnya lebih besar dari rumah masyarakat biasa, dengan lantai salima yang berlantai dua artinya sebagian lantai lebih rendah dari lantai yang lain, pada umumnya disebutnya tamping , dan lantai yang lebih tinggi disebut ale bola, symbol ini juga dapat dilihat pada komunikasi sehari-hari.

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Konsep Beragama Towani Tolotang

Kehidupan manusia yang terbentang sepanjang sejarah selalu dibayangi oleh agama. Bahkan, dalam kehidupan yang sekarangpun dengan keajuan teknologi serba modern manusia tidak bias lepas dari apa yang disebut agama. Agama sebagai suatau kebutuhan dasar manusia, karena agama sebagai sarana pembelaan diri terhadap segala bentuk kekacauan yang mengancam kehidupan manusia.

Dalam masyarakat sederhana ciri religious bersama hampir berhimpitan sepenuhnya dengan kebudayaan. System kepercayaan beragama memasuki seluruh kehidupan individu maupun kolektif, dalam masyarakat modern agama barangkali dianggap sebagai suatu hal yang tidak terlalu menentukan. Namun hal ini tidaklah seperti yang terjadi dikalangan masyarakat Towani Tolotang. Agama sebagai wujud sosial dari rasa keimanan manusia, dapat memberikan interaksi yang positif pada perkembangan masyarakat.

Agama dapat dipandang sebagai kepercayaan dan pola perilaku yang diusahakan oleh suatu masyarakat untuk menangani maslah penting yang tidak dapat dipecahakan oleh ilmu pengetahuan teknoligi dan manajemen modern. Agama memberikan makna pada kehiduoan individu dan kelompok, juga member harapan tentang kelanggengan hidup sesudah mati. Agama dapat dijadikan sarana untuk mengangkat diri dari kehidupan duniawi, guna mencapai kemandirian spiritual. Agama memperkuat norma-norma kelompok, sanksi moral untuk perbuatan perorangan, dan menjadi dasar persamaan tujuan serta nilai-nilai yang menjadi landasan keseimbangan kehidupan masyarakat.

Iman dan agama sebagai suatu kenyataan yang harus diterima manusia agar dapat mengusahakan suatu teologi trasformatif bersama, keyakinan iman dan agama yang diwahyukan Tuhan kepada manusia sebagai suatu konsep untuk sebuah tatanan kehidupan bersama.

Setiap agama yang ada di muka bumi ini tentunya mempunyai konsep masing-masing, baik untuk kehidupan duniawi maupun dalam kerangka kehidupan akhirat. Masyarakat Towani Tolotang yang menganut ajaran agama Tolotang mempercayai bahwa agama yang mereka unut berasal dari Sawerigadign yang menerima Sadda dari Dewata Sewwae.

Menurut pengikut Towani Tolotang bahwa dunia yang ditempati ini, sesungguhnya diciptakan oleh Dewata Sewwae, yang pada waktu itu tidak terdapat sesuatu apapun atau kosong. Pada suatu ketika PatotoE (Pencita alam semesta) bangun dari tempat tidurNya lalu menayakan keberadaan pesuruhNya Rukkelleng Mpoba, Runa Makkopong, dan Sanggiang Pajung. Namun dari laporan pembantuNya yang lain tidak mengetahui keberadaan mereka. Pada suatu ketika tampaklah Rukkelleng Mpoba menuju ketempat PatotoE setelah sampai dia melaporkan adanya tempat yang masih kosong, sekaligus mengusulakn kepada PatotoE untuk mengutus salah seorang putraNya diturunkan untuk mengisi bumi yang kosong sebagai mula tau, untuk mejadi pemimpin di bumi.

Berikut ini penggalan dari dialog pembukaan Surag Galigo;Maddaung wali Rukkelleng Mpoba, …temmaga Puang muloq seua rijajiammu, tabareq-bareq Puang, rekkua masuaq tau ri awa lagi, le ri menegna paretiwie mattampa Puang le ri Batara. Bersimpuh Rukkelleng Mpoba, . . . alangkah baik Tuanku menurunkan seorang keturunan untuk menjelma di muka bumi agar dunia tidak lagi kosong, dan terang benderang paras dunia, Engkau bukanlah Dewata selama tak satu manusiapun di kolong langit, di permukaan bumi, yang menegaskan Paduka sebagai Batara (Arsuka, 2002).

Usulan yang disampaikan oleh Rukkelleng Mpoba kemudian dimusyawarahkan dengan Dewa-dewa yang lainnya, dan menunujuk Batara Guru untuk dijelmakan sebagai tunas manusia di bumi. Batara Guru sebagai To Manurungge dan sebagai manusia pertama diturunkan dari langit dengan perantaraan pelangi, dan ditetaskan lewat sebatabg bamboo betung.

Untuk meneruskan kepemimpinan di muka bumi PattoE juga menurunkan pasangan bagi Batara Guru yaitu I Nyili Timo yang kemudian melahirkan putra yang diberi nama Batara Lattu. Setelah empat generasi dari orang yang pertama diturunkan oleh PatotoE, maka terjadilah kekacauan dan peperangan antar kelompok di muka bumi yang membuat PatotoE murka dan menghancurkan dunia samapai kosong kembali dalam istilah lontaraq disebut Taggilinna Sinapatie.

Setelah beberapa lamanya dunia kosong, maka PattoE mengisi dunia kembali dengan manusia, pada saat itu menurut kepercayaan pengikut agama Towani Tolotang diturunkannya La Panaungi yang kemudian merumuskan kepercayaan Sawerigading, setelah menerima wahyu dari Dewata Sewwe sebagai dasar keyakinan bagi Towani Tolotang, kepercayaan ini kemudian disebarkan kepada pengikutnya sampai sekarang.

Ketika agama Islam berkembang di daerah Wajo kelompok ini terdesak, mereka kemudian mengungsi kedarah Sidenreng dibawah pimpinan I Pabbere dan menetap di daerah Amparita dan dikuburkan di lokasi yang sekarang dikenal dengan nama Perri nyameng. Sebelum meninggal I Pabbere berpesan kepada pengikutnya agar tiap tahunnya menziarahi kuburannya, pesan itulah yang dijalankan orang-orang Towani Tolotangi di Perri nyameng untuk mengadakan ritus Sipulung.

Perlu dijelaskan bahwa ritus Sipulung yang dilakukan oleh Towani Tolotang bukanlah bentuk penyembahan kepada berhala melainkan sebagai penghormatan kepada I Pabbere sebagai mana yang dikemukakan oleh Uwa La Satti, (wawancara, 6-10-2003).

Ajaran Towani Tolotang didasarkan pada lima hal yaitu

1. Percaya akan adanya Dewata Sewwae

2. Percaya adanya penerima wahyu

3. Percaya akan adanya kitab suci

4. Percaya akan adanya hari kiamat

5. Percaya akan adanya hari akhirat.

Melihat konsep dasar ajaran Towani Tolotang tidak jauh berbeda dengan Rukun Iman yang dijadikan dasar dalam ajaran Islam, hanya saja dalam ajaran Towani Tolotang tidak ada kepercayaan terhadap ketentuan nasib baik dan buruk secara tersendiri.

Konsep ke Tuhanan dalam kepercayaan Towani Tolotang adalah apa yang mereka sebut dengan Dewata Sewwae. Dewata berarti Dewa atau Tuhan sedangkan Sewwae artinya satu atau Esa. Dewata Sewwae sebagai Zat yang disembah mempunyai sifat antara lain, Maha Pemberi, Maha Pengampun, Maha Kuasa.

Penganut Towani Tolotang dalam kehidupannya sehari-hari dipengaruhi oleh keyakinan terhadap Dewata Sewwae yang kemudian membentuk suatu sikap hidup tertyentu dalam diri pengikut Towani Tolotang; mengakui bahwa tiada yang patut disembah kecua;I Dewata Sewwae, melakukan kewajiban bagi masyarakat Towani Tolotang yang mereka sebut dengan istilah molalaleng, member bakti social terhadap sesame, marellau atau berdoa; mappala wali ri paratiwie marellau ri botting langi, serta meyakini bahwa Dewata Sewwae; mampancaji tenri pancaji,makkole tenri kelori, makkita mata, tennaita mata Iyamaneng makkelori, serta semua yang tampak dan yang gaib adalah kekuasanNya.

Dalam keyakinan Towani Tolotang dikenal pula adanya Sadda atau wahyu dan orang yang menerima wahyu, orang yang pertama menerima wahyu adalah Sawerigading, beliaulah yang menyebarkan ajaran-ajaran dari Dewata Sewwae yang diperoleh melaui Sadda. Sepeniggal Sewarigading dan setelah pengikutnya musnah karena telah banyak berbuat kerusakan, maka Dewata Sewwae mengutus La Panaungi yang juga menerima sadda untuk melanjukan ajaran serta meluruskan penyimpangan yang terjadi.

Ada satu keyakinan yang masih dipercayai Towani Tolotang bahwa La Panaungi belum meninggal tetapi dia mallang (diangkat ke langit). Sebelum pergi La Panaungi berpesan kepada kaumnya agar ajaran ini dipertahankan sampai Dia turun kembali ke bumi, pesan ini dipindahkan turun temurun secara lisan dan diperpegangi oleh Towani Toltang.

Setiap agama tentunya mempunyai kitab suci yang dijadikan sebagai pedoman dalam beribadat dan kontak social dengan anggota masyarakat yang lainnya. Kitab suci yang dijadikan pegangan oleh Towani Tolotang adalah kitab Lontara yang lazimnya disebut Sure Galigo yang berisi empat uraian pokok yaitu ; Mula ulona Batara Guru, Taggilinna Sinapatie, Itebbanna Walanrange, Appongenna Towanie. Lontara ini berisi petunjuk-petunjuk dan ajaran tentang kehidupan sebelum adanya dunia ini sampai setelah berakhirnya kehidupan di bumi.

Dalam uraian sebelumnya telah dijelaskan mengenai kisah Mula Ulona Batara Guru yang berisi tentang asal usul manusia di bumi begitu juga dengan Taggilinna Sinapatie dimana menerangkan tentang pengisian kembali bumi setelah pengosongan akibat kekacauan yang terjadi. Sedangkan apa yang dipahami Towani Tolotang tentang Ritebbanna Walanrangge, adalah kisah ditebangnya sebuah pohon ajaib untuk dijadikan perahu oleh La Galigo yang dijadikan kapal berlayar ke negeri Cina, tiga konsep ini mirip dengan kisah dalam epos La Galigo.

Bagian terakhir dari keyakinan Towani Tolotang adalah Appongenna Towanie, adalah riwayat ketika La Panaungi menerima Sadda dari Dewata Sewwae, sebagai petunjuk kehidupan di dunia dan di akhrat nanti. Disamping kitab lontara yang menjadi pedoman Towani Tolotang juga terdapat apa yang mereka sebut paseng dan pemmali sebagai salah satu sumber ajaran tentang nilai dan norma.

Penganut Towani Tolotang juga meyakini adanya kehidupan sesudah mati, atau hari kemudian, yang mereka sebut lino paimeng, sebagai hari pembalasan, mereka yang salama hidup di dunia taat pada aturan agama dan Uwa akan ditempatkan di Lipu Bonga, semacam syurga bagi ummat Islam. Untuk mendapatkan keselamatan hidup di akhirat maka manusia harus mengtahui tujuan hidupnya.

Pengabdian kepada Dewata Sewwae melalui wakil mereka yaitu Uwa yang disebut molalaleng berupa kewajiban yang harus dijalankan. Kewajiban ini berupa ritual seperti; mappenrei nanre sebagai bekal dihari akhirat, kewajiban semacam ini juga dilaksanakan pada saat melaksanakan pernikahan, acara kematian dan kelahiran bayi, disamping itu ada juga ritual tudang sipulung biasanya hal ini dilakukan ketika akan memulai sebuah pekerjaan. Pada umumnya kegiatan tersebut dikenal dengan istilah makkasiwiang (beribadah).

Upacara mappenrei nanre adalah sebuah bentuk peribadatan kepada Tuhan dengan melalui perantara Uwa atau Uwatta, secara harfiah mappenrai nanre adalah menaikkan nasi atau membawa nasi kerumah Uwa atau Uwatta, maksudnya suatu bentuk peribadatan dengan menyarahkan nasi lengkap dengan lauknya yang terdiri dari lima macam; Salonde, Tumpi-tumpi, bajabu bale, dan manuk mallibu (ayam yang dimasak dalam keadaan utuh). Penyerahan ini dilakukan di rumah Uwa atau Uwatta, dengan posisi saling berhadapan, kalau dulunya persembahan diletakkan dalam bakul-bakul khusus yang dibuat dari daun lontar dianyam segi empat, atasnya berbentuk bundar lengkap dengan penutupnya.

Malinoswski berpendapat bahwa upacara merupakan sarana untuk mengungkapkan perasaan pribadi secara kolektif dengan cara yang direstui masyarakat, dan upacara upacara seperti ini sering dilaksanakan pada masyarakat yang hidup dari pertanian. Upacara tersebut menunjukkan sikap hormat pada sang pencipta dan keseburan di dalam alam di mana manusia hidup dan bergantung (Haviland, 1993).

Seiring dengan perkembangan jaman dalam hal tempat yang dipakai untuk mappenrei nanre bukan lagi bakul yang terbuat dari daun lontar melainkan panic kembang berukuran besar. Dalam hal jumlah berapa banyak yang harus diserahkan tidak ada ketentuan khusus, hal ini tergantung pada kemampuan serta keihklasan seseorang, yang pasti semakin banyak jumlah yang dipersembahkan semakin besar pula pahala yang akan diterima dihari kemudian.

Persembahan yang dilakukan oleh Towani Tolotang beumlah dianggap sempurna bila tidak disertai rekko ota (daun sirih yang dibentuk dengan lipatan khusus), hal ini merupakan lambang pemberitahuan kepada Dewata Sewwae bahwa seseorang akan menyarahkan nasi sebagai sajian untuk pengabdian, demikian juga sebaliknya daun sirih tanpa nasi tidak dapat diterima. Sesajen yang diserahkan kepada Uwa atau Uwatta setelah dibacakan doa keselamatan dalam bahasa bugis sebagian akan dikembalikan kepada orang yang member sesajen itu untuk dimakan secara bersama-sama dan sisanya ditinggal untuk Uwa atau Uwatta, sementara daun sirih diserahkan kepada orang yang memberikan sesajen untuk kemudian dijadikan sebagai penagkal kesialan atau jimat-jimat untuk keselamatan, daun sirih itu dipercayai sangat ampuh sebagai mana yang diceritakan I Mase’ kepada penulis (9-9-2003).

Bentuk kegiatan social dalam kehidupan Towani Tolotang juga merupakan peribadatan kepada Dewata, besar kecilnya partisipasi anggota masyarakat terhadap suatu kegiatan akan mempengaruhi kehidupan mereka kelak dikemudian hari.

Penganut Towani Tolotang juga mempercayai adanya hari kiamat yang disebut asolangeng lino, kehancuran alam, dimana semua manusia akan mati kemudian dibangkitkan kembali untuk mempertanggung jawabkan segala perbuatannya pada masa hidup di dunia.

Dalam system kepercayaan Towani Tolotang terdapat ritual yang harus dijalankan sebagai bentuk kepercayaan manusia kepada Tuhan. System upacara ini sendiri tidak lain merupakan tingkah laku yang berkaitan dengan kemampuan di luar kekuatan manusia, dan system pewarisan keyakinan ini diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya.

Malinowski berpendapat bahwa upacara atau ritual yang dilakukan merupakan sarana untuk secara kolektif mengungkapkan perasaan pribadi dengan cara yang direstui oleh masyarakat, sambil menjaga persatuan dan menghindari terjadinya perpecahan dalam masyarakat. Ritual yang dilakukan tiap tahunnya dimaksudkan untuk menghormati kekuatan Pencipta dan kesuburan di dalam alam sebagai tempat bergantungnya kehidupan manusia.

Keikut sertaan dalam kegiatan ritual yang memperkuat keterlibatan kelompok, keikutsertaan juga merupakan latihan untuk menghadapi situasi yang kritis serta memperkuat sikap penyadaran diri pada kekuatan supernatural, yang dengan mudah dapat digerakkan dalam keadaan tegang yang menuntut agar orang tidak mudah menyarah pada kegelisahan dan ketakutan (Haviland, 1983).

B. Konsep Sosial Towani Tolotang

Dalam kehidupan bermasyarakat tentunya ada beberapa hal yang menjamin terjalinnya kehidupan yang harmonis sehingga tidak terjadi kekacauan dalam masyarakat tersebut. Untuk menertibkan kontak social dalam masyarakat diperlukan norma-norma yang bersiafat mengikat setiap anggota masyarakat secara keseluruhan.

Norma yang berlaku dalam setiap masyarakat tentunya berbeda antar satu masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lainnya hal ini ditentukan oleh kondisi lingkungan setempat, bahkan dalam sutu suku kadang ada perbedaan yang mendasar tentang ajaran norma atau konsep terhap system social yang diterapkan.

Suatu system nilai atau norma merupakan suatu rangkaian konsepsi abstrak yang hidup dalam alam pikiran masyarakat yang tidak hanya menilai tentang apa yang dianggap penting dan berharga namun juga menilai tentang hal-hal yang dianggap remeh dan tidak berharga dalam hidup.

Norma berfungsi sebagai pedoman dan pendorong manusia dalam melakukan interaksi social, system norma yang sudah berakar dalam masyarakat biasanya akan bersifat mengikat anggotanya dengan berbagai aturan dan sangsi terhadap sebuah pelanggaran, meskipun peraturan ini tidak tertulis sebagai mana hokum formal akan tetapi mampu menjadi filter dalam mengontrol pola pergaulan masyarakat.

System nilai walaupun merupakan suatu konsepsi yang abstrak, namun mampu mempengaruhi tindakan manusia secara langsung, hal ini dikarenakan kebutuhan manusia terhadap sesamanya dalam artian bahwa tidak ada manusia yang mampu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya tanpa bantuan orang lain, sehingga membantuk suatu pola pikir untuk tetap mempertimbangkan kepentingan orang lain.

Sajogyo (1999), mengtakan bahwa norma adalah tata kelakuan dan pedoman yang sesungguhnya untuk sebagian besar dari tindakan manusia dalam masyarakat. Bentuk nyata dari norma tersebut bermacam-macam, ada yang berbentuk aturan adat, aturan tentang sopan santun pergaulan dan lain sebagainya, dan berlaku sesuai fungsinya masing-masing guna mengatur kehidupan masyarakat yang kompleks.

Towani Tolotang sebagai sebuah komunitas agama mempunyai norma tersendiri dalam melakukan interaksi social, dan norma yang berlaku dikalangan mereka bersifat mengikat anggota masyarakat dengan berbagai aturan yang harus ditaati serta berbagai ganjaran yang harus diterima oleh orang-orang yang lalai dalam menjalankan norma yang ada.

Interkasi social yang terjadi di kelaurahan Amparita yang dihuni oleh tiga kelompok masyarakat yang mempunyai cirri dan konsep social sendiri yakni : Towani Tolotang, Tolotang Benteng, dan Islam. Ketiga kelompok ini tidak menempati koloni tertentu di kelurahan Amparita, tetapi mendirikan rumah secara bercampur, sehingga interaksi social yang terjadi tidak saja terjadi antara golongan sendiri akan tetapi juga terjadi interaksi dengan kelompok lain, dan setiap golongan mempunyai konsep tersendiri tentang kehidupan social.

Setiap konsep yang berlaku dalam suatu masyarakat bukanlah meruapakan model-model pemikiran yang dipaksakan dari luar, tetapi harus berkaitan dengan kondisi yang berlaku dalam masyarakat yang bersangkutan. Konsep social adalah penafsiran denga mengeluarkan makna tertentu supaya lebih jelas dan menhubungkannya dengan makna lain dan berbagai system makna yang ada dalam masyarakat yang bersangkutan.

Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Towani Tolotang berpegang teguh pada paseng dan pemmali yang secara turun-temurun diwariskan dalam keluarga masing-masing. Pewarisan nilai-nilai luhur dalam keluarga merupakan kwajiban oleh penganut agama Towani Tolotang hal ini diungkapkan dengan istilah tomatoanna jellokangngi laleng anakna artinya orang tua seharusnya memberikan petunjuk kepada anaknya, paseng dan pemmali inilah yang dianggap penganut agama Towani Tolotang konsep social yang harus diperpegangi oleh setiap masyarakat yang lainnya. Wawancara dengan Uwa’ La Ondo (24-09-2003).

Dalam pembetukan sikap peribadi dan sikap hidup bermasyarakat tiap anggota masyarakat Towani Tolotang wajib berpegang pada sifat-sifat utama sebagai konsep social masyarakat seperti yang dikemukakan oleh Uwatta Battoae Uwa Tembong (06-10-2003).

1. Lempu atau kejujuran

2. Getteng atau sikap tegas

3. Tettong atau ketetapan hati konsekwen

4. Tongeng atau benar

5. Temmapasilaingeng atau bersikap adil.

Kelima konsep social yang disebutkan tentunya mempunyai makna yang dalam bagi setiap penganut Towani Tolotang. Untuk mengatahui makna dari konsep social yang dikemukana di atas akan dibahas satu persatu, dalam pembahasan ini secara terinci.

Kelima konsep yang dikemukakan meskipun sama dengan konsep social yang dijadikan dasar oleh orang Bugis, namun hal itu merupakan konsep asli Towani Tolotang, hal ini juga tidak terlepas dari sejarah Towani Tolotang sendiri yang memang merupakan keturunan orang-orang Bugis. Konsep social ini dikuatkan dengan adanya pernyataan Towani Tolotang yang mengaku tidak lagi mengikuti ajaran Sawerigading, melainkan hanya mengikuti ajaran La Panaungi.

1. Lempu atau kejujuran

Memelihara sifat-sifat utama dalam kehidupan ini bagi Towani Tolotang, merupakan suatu keharusan, hal ini dikarenkan untuk dapat tetap hidup berdampingan dengan anggota masyarakat yang lainnya dibutuhkan sifat-sifat utama, seseorang yangtidak mampu mempertahankan sifat-sifat utama akan dikucilkan dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut masyarakat Towani Tolotang, yang menentukan kemanusian seorang manusia ialah berfungsinya sifat-sifat kemanusiaan, sehingga orang menjadi manusia adalah yang mampu menjaga sifat-sifat utama. Sifat-sifat utama harus ditampilkan peranannya dalam tiap kegiatan, baik dikalangan individu maupun institusi kemasyarakatan, nilai-nilai inilah yang dilestarikan masyarakat Towani Tolotang dari generasi kegenerasi secara turun temurun dalam membina pranata social yang ada.

Salah satu sifat utama masyarakat Towani Tolotang adalah lempu yang secara bahasa dalam bahasa Bugis berarti jujur atau berlaku adil namun secara makna kata lempu atau jujur dalam hal ini tidak diartikan secara sempit, namun harus diartikan secara luas.

Kata jujur dalam konsep ini adalah kemampuan seseorang berlaku jujur terhadap sesama manusia dan ciptaan Tuhan. Seseorang tidak hanya dituntut untuk jujur kepada orang lain akan tetapi kejujuran ini harus diterapkan pada diri sendiri, termasuk kepada Dewata Sewwae, walaupun pada dasarnya Dewata Sewwae menegetahui segala bentuk kegiatan manusia di bumi ini.

Lempu juga berarti kesalehan hati yang dimiliki seseorang dari perbuatan-perbuatan yang dilarang agama, serta menepati janji, baik yang terlahir dalam bentuk perbuatan maupun dalam masalah niat. Kejujuran juga merupakan patokan dalam pergaulan sehari-hari baik itu dengan masyarakat Towani Tolotang sendiri maupun masyarakat yang berada di luar Towani Tolotang.

Menurut Uwa Sandi Tonang (wawancara, 6-10-2003), sesorang yang dalam pergaulan sehari-hari tidak mampu untuk berlaku jujur, akan dikucilkan dari pergaulan masyarakat, ada empat macam perbuatan jujur; yaitu memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita, tidak menyalahgunakan kepercayaan yang diberikan, tidak serakah terhadap barang-barang yang bukan miliknya atau milik orang lain, dan tidak memandang sebuah kebaikan jika dinikmati sendiri, akan tetapi kebaikan itu adalah hal yang dinikmati bersama oleh anggota masyarakat.

Sikap jujur terhadap sesema mahluk akan menciptakan suatu tatanan kehidupan social yang harmonis, karena sifat tersebut bisa membuat masyarakat yang lainnya terpengaruh pada sisfat-sifat yang tidak meruak system social yang telah tertata rapi dalam lingkungan masyarakat Towani Tolotang. Dalam ajaran agama Towani Tolotang seseorang yang tidak berlaku jujur akan dosa serta ganjaran yang setimpal dari Dewata Sewwae.

Lempu juga di sini mengandung empat unsure yakni ; jujur kepada Dewata Sewwae, jujur terhadap diri sendiri, jujur tehadap sesama manusia dan jujur tehadap sesame ciptaan Dewata Sewwae. Ke empat unsur kejujuran ini oleh setiap penganut Towani Tolotang sangat dijunjung tinggi karena merupakan manifestasi dari tingkah laku yang akan memberikan ketentraman lahir dan batin.

2. Getteng atau Tegas

Dalam kehidupan bermasyarakat di lingkungan Towani Tolotang diperlukan suatu sikap kemandirian yang mantap, dalam artian bahwa setiap anggota masyarakat harus mempunyai sikap getteng yang secara bahasa berarti tegas. Sikap tegas diperlukan dalam rangka pengambilan suatu keputusan dalam masalah-masalah yang timbul dalam proses social, setiap individu dituntut berani dalam mengambil suatu keputusan sehingga nanti tidak terjadi pnyesalan.

Menurut Uwa Sandi Tonang (wawancara, 6-10-2003) sikap getteng, merupakan factor penting dalam membina masyarakat karena getteng merupakan cerminan jiwa kemanusiaan yang tinggi jiwa dedikasinya, dan selalu berorientasi kemasa depan dan pembaharuan. Sikap getteng harus dimiliki oleh setiap pemimpin sebagai panutan dalam masyarakat, getteng harus ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat mulai dari tingkat yang terendah samapai pada tingkat yang tetinggi.

Lapisan yang pertama wajib memberikan teladan yang baik pada masyarakat, tetapi manakala pada lapisan pertama tidak dapat memberikan contoh yang baik maka akan sulit untuk menerapkan pada lapisan masyarakat umum, lebih lanjut Uwa Sandi Tonang menagatakan bahwa, sikap getteng dari seorang pemimpin menentukan sikap dan tingkah lakunya dalam masyarakat. Intelektual dan tingkat pendidikan suatu masyarakat bukan jaminan akan kemajuan dan tingginya peradaban yang dimilikinya, akan tetapi hal itu akan ditentukan oleh sikap tegas dan keberanian pemimpin dalam mengambil keputusan.

3. Tettong atau konsekuen

Konsep social ketiga yang dimiliki Towani Tolotang adalah tettong dalam bahasa bugis tettong diartikan berdiri, namun dalam hal ini kata tettong berarti konsekuen atau teguh dalam pendiriannya, sebagai sebuah bentuk sikap yang tidak mudah terkena pengaruh dan godaan, terutama dalam mengamalka ajaran Towani Tolotang, tettong di sini juga diartikan sebagai bentuk pertanggung jawaban dari apa yang telah dilakukan manusia.

Sulit membedakan antara konsep-konsep social yang diperkenalkan Towani Tolotang karena memiliki pengertian yang hampir sama, namun apa bila dicermati maka akan didapati celah atau perbedaan tetapi masih saling terkait antara konsep yang satu dengan konsep yang lainnya.

Konsep tettong sebagai salah satu sifat utama yang harus dimiliki Towani Tolotang, dipahami sebagai kemampuan anggota masyarakat dalam menepati apa yang pernah diungkapkannya, satunya kata dengan perbuatan, dikalangan Towani Tolotang seseorang akan disebut tau apabila ia mampu untuk memproses diri atau pemutuan diri yang berawal dari sadda, bunyi atau suara dari Dewata Sewwae, sebagai tahap alamiah, lalu proses ini berlanjut pada tingkatan ada atau perkataan, pada tingkatan ini proses manusia mulai pada jenjang social budaya.

Perkataan manusia merupakan pegangan yang akan dijadikan dasar bagi individu yang lain dalam menilai individu yang bersangkutan, apabila individu mampu untik tetap menjaga ada yang pernah dikeluarkannya, seterusnya manusia akan masuk dalam tingkatan pembuktian berupa gau, rangkaian tindakan yang dilakukan dalam proses berinteraksi dengan individu lainnya.

Dari proses yang telah dikemukakan dapat dipahami bahwa untuk mencapai individu menjadi tau atau manusia paripurna, eksis meng-ada, harus melalui beberapa tahapan. Kemampuan individu menjadi tau adalah subtansi dari sifat tettong yang menempatkan individu dalam martabat dan harga diri.

1 komentar:

munir ardi on 21 Februari 2010 22.43 mengatakan...

sebuah artikel mantap makasih pak

Poskan Komentar


Search Engine Optimization and SEO Tools
 

Followers

ATTARBIYAH Copyright © 2009 Blogger Template Designed by Bie Blogger Template